Mengenal Sosok ‘Ibu Perbu’ Biografi Cut Nyak Dien

Santanderdequilichao – Sebagai salah satu dari Pahlawan Wanita Indonesia, Cut Nyak Dien dikenal sebagai pemimpin Gerilyawan Aceh yang melakukan penyerangan terhadap pasukan Kolonial Belanda. Meski seorang wanita, Ia merupakan salah satu sosok yang ditakuti Belanda karena mampu membangkitkan kembali semangat perlawanan rakyat Aceh. Inspiratif, bukan? Untuk itu, mari mencoba untuk mengenal lebih dekat sosok pahlawan wanita dari Aceh dalam biografi singkat dari judi slot online.

Biografi Cut Nyak Dien

Kehidupan Awal

Cut Nyak Dien (Tjoet Nja’ Dhien) lahir di Lampadang, Kesultanan Aceh tahun 1848. Ia dilahirkan dalam keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar. Ayahnya merupakan seorang uleebalang VI Mukim (Walikota; dalam strata pemerintahan sekarang) dan ibunya adalah putri dari Uleebalang Lampageu. Cut Nyak Dien memperoleh pendidikan dalam bidang agama dan rumah tangga pada masa kecilnya dan menikah pada usia 12 tahun dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari uleebang Lamnga XIII dan dikaruniai seorang anak laki-laki.

Perjuangan dalam Perlawanan Perang Aceh

26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari Kapal Perang Citadel van Antwerpen. Pada tahun 1873, Daerah VI Mukim diambil alih oleh Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten hingga pada tahun 1974 Keraton Sultan pun jatuh ke pihak Belanda, sehingga pada tanggal 24 Desember 1875, Cut Nyak Dien dan bayinya beserta rombongan lainnya mengungsi. Sedangkan suaminya, Ibrahim Lamnga bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim dan berakhir tewas saat pertempuran di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878. Hal ini membuat Cut Nyak Dien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda. Hingga pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menerima lamaran dan menikah lagi dengan Teuku Umar yang juga merupakan salah satu tokoh pejuang. Hal ini meningkatkan kembali moral semangat perjuangan Aceh melawan Belanda.

Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya “menyerahkan diri” kepada Belanda dan Belanda menjadikannya sebagai komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh. Ia merahasiakan rencananya tersebut, meskipun dituduh sebagai pengkhianat oleh rakyat Aceh. Pada saat kekuasaan dan pengaruh Teuku Umar cukup besar, ia memanfaatkannya dengan mengumpulkan orang-orang Aceh dalam pasukannya untuk pergi dengan seluruh perlengkapan berat, senjata dan amunisi Belanda tanpa kembali lagi ke markas Belanda. Strategi pengkhianatan tersebut disebut Het Verraad van Teukeo Oemar dan membuat Belanda sangat marah dan melancarkan operasi untuk menangkap Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Pada saat bersamaan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien beserta pasukannya tetap melakukan gerilyawan dengan dilengkapi peralatan milik Belanda. Hingga pada tangga 11 Februari 1899, Teuku Umar meninggal dunia tertembak peluru. Namun, Cut Nyak Dien tetap melanjutkan perlawanan dengan menjadi pemimpinnya beserta pasukan yang tersisa yang akhirnya hancur pada tahun 1901. Lalu, Pang Laot yang merupakan anak buah Cut Nyak Dien melaporkan keberadaan Cut Nyak Dien kepada Belanda karena merasa iba dengan kondisinya yang semakin tua dan kemudian ia berhasil ditangkap.

Akhir Hayat

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dien dibawa ke Banda Aceh dan penyakitnya berangsur membaik. Namun, ia malah dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena ditakutkan kehadirannya mampu menciptakan kembali semangat perlawanan terhadap Belanda dan ia juga terus berhubungan dengan para tokoh yang masih berjuang, seperti anaknya dengan Teuku Umar yaitu Cut Gambang. Ia dibawa bersama para tahanan politik Aceh lain ke Sumedang dengan kerahasiaan identitasnya. Ia juga ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang menyadari bahwa Cut Nyak Dien merupakan sosok yang ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai “Ibu Perbu”. Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dien meninggal dunia karena usianya yang sudah tua. Makam “Ibu Perbu” baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan dan pada tanggal 2 Mei 1964, ia diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno melalui SK Presiden RI No. 106 Tahun 1964.